![]() |
Foto : Ginar Kartawidjaya, Pendiri Titik Kumpul Wong Tulus |
TribunIKN.Com - Tuan Rumah Kajian Titik Kumpul Ginar Kartawidjaya mengungkapkan bahwa diskusi atau kajian yang selama ini dilaksanakan tidak membutuhkan sosok pemateri. Semua peserta diskusi yang hadir dianggap sebagai pemateri. Menurutnya, konsep diskusi kesetaraan yang idel tidak diperlukan sosok pemateri.
“Konsep diskusi ini menganut aliran kesetaraan artinya semua orang berhak menyampaikan pendapat atau argumen. Dari yang muda sampai yang tua, laki-laki maupun perempuan, atau status sosial lainnya, gak ngaruh. Tidak ada sosok orang yang diunggulkan di forum diskusi. Semuanya sama,” ungkap Ginar dalam keterangannya pada Selasa (25/2/2025).
Ginar menjelaskan konsep diskusi kesetaraan menjadi sangat efektif karena dengan diskusi ini, semua orang akhirnya membaca, mencari data sendiri, mencari referensi sendiri, mampu menganalisis, kemudian menulis dan di forum diskusi semua diberi kesempatan untuk menyampaikan argumen. Konsep diskusi ini akan melahirkan kekayaan intelektual dan argumen yang tajam dari peserta diskusi.
“Semua orang diberi kebebasan dalam mencari referensi untuk membangun argumen. Tuan rumah diskusi tidak menyediakan referensi atau semacamnya. Kalo tuan rumah menyediakan referensi, maka hampir semua peserta diskusi isi kepalanya sama. Pada akhirnya, selama diskusi tidak ditemukan ada kekayaan intelektual yang muncul,” kata Ginar.
Aktivis PMII Jakarta itu mengatakan konsep diskusi yang menyediakan sosok pemateri mengakibatkan para peserta lebih banyak diam tidak bisa menyampaikan argumen. Itu disebabkan para peserta tidak membaca lebih dulu materi yang dibahas. Menurutnya, apa yang ada dipikiran peserta diskusi, cukup hadir lalu mendengarkan sosok pemateri menyampaikan materinya.
“Jadi diskusinya terpaku pada satu sosok sentral saja yaitu pemateri. Seakan-akan apa yang disampaikan pemateri sudah final, tidak perlu didebat dan dibantah dengan segala firmannya. Pada akhirnya kita gak belajar, gak membaca, tidak mampu menganalisis dan daya kritis kita tidak akan tumbuh,” jelas Mantan Ketua DPM Unusia Jakarta itu.
Kemudian, jelas Ginar, apabila ingin menyediakan sosok pemateri baiknya diacara atau kegiatan seperti seminar, workshop atau kaderisasi. Menurutnya, diskusi itu memancing dan membentuk peserta diskusi untuk gemar membaca, kemudian nantinya akan tumbuh sikap kritis.
“Semua itu dimulai dari diri sendiri. Dimulai dari siapkan materi dengan cari referensi, membaca, menganalisis, lalu hadir diskusi, sampaikan dengan penuh percaya diri. Kita biasakan latihan bicara di depan orang banyak. Siapapun itu orangnya depan kita,” tegas Ginar.
Diskusi kesetaraan semacam ini, lanjut Ginar, menuntut untuk disiplin dan menghargai semua peserta diskusi. Semua peserta diskusi akan mendapatkan giliran menyampaikan pendapat sesuai arahan moderator.
“Kalo teman kita sedang menyampaikan pendapatnya, kita dengarkan aja sampai teman kita selesai menyampaikan. Nanti pada gilirannya kita juga akan menyampaikan pendapat. Itulah tugas moderator yang mengatur jalannya diskusi. Siapa yang ditunjuk moderator, dia yang boleh bersuara,” imbuhnya.
Sebagai informasi, kajian Titik Kumpul memasuki pertemuan ke lima yang akan dilaksanakan pada Rabu, (26/2/2025) mendatang. Dengan tema kajian Danantara; Tata Kelola, Resiko dan Pengawasan. Adapun alamat tempat kajian di Jl. Tebet Dalam, Kec, Tebet, Jakarta Selatan. Kajian rutin yang dilaksanakan itu berfokus pada tema seputar kebijakan pemerintah.